Anda Butuh apa??

Semangat

Total Tayangan Halaman

Entri Populer

Senin, 05 Maret 2012

Penentang Adat dalam Novel "Salah Pilih"

A. Pendahuluan

Nur Sutan Iskandar lahir di Sungaibatang, Maninjau. Menyelesaikan pendidikan di sekolah Melayu, Nur Sutan Iskandar diangkat menjadi guru. Selama menjalani profesi tersebut, ia belajar otodidak dari buku-buku terutama mengenai bahasa Melayu dan Belanda. Tulisannya sering dimuat dalam berbagai surat kabar di Padang. Seorang sastrawan yang produktif, yang menghasilkan tak kurang dari 82 judul buku, serta menulis bacaan bagi siswa sekolah.
Novel yang berjudul Salah Pilih karangan Nur St. Iskandar ini memiliki cerita cinta yang menarik bagi pembaca untuk membacanya karena ceritanya tidak berbelit-belit meskipun dalam bahasanya menggunakan bahasa melayu. Novel ini menceritakan tentang adat minangkabau yang beragam dan bervariasi. Cerita cinta Asnah dan Asri yang begitu menarik dan asyik untuk dibaca karena ceritanya yang mungkin sangat menarik untuk dibaca. Karena kurang lebih ceritanya serupa dengan cerita cinta di sinetron-sinetron Indonesia dengan gaya bahasa yang dramatis dan terkadang berlebihan.
Tokoh utama dalam cerita ini, yaitu Asnah dan Asri, yang mempunyai watak sangat berbeda walaupun mereka dari satu suku yang mempunyai adat-istiadat yang serupa. Asnah mempunyai watak sabar, baik, lemah lembut dan sopan. Sedangkan Asri, mempunyai watak, baik, bijaksana, dan mempunyai pekerti yang luhur. Dia adalah seorang tokoh bulat yang wataknya pun bulat, dimana dia berganti dari seseorang yang lemah lembut, romantik dan sabar, menjadi seseorang yang cepat marah setelah menikah dengan Saniah.
Novel Salah Pilih karangan Nur St. Iskandar menceritakan tentang sepasang adik-kakak bernama Asri dan Asnah yang mencintai satu sama lain. Walaupun bersaudara, mereka tidak bisa dikatakan bersaudara kandung karena ibu asri mengangkat Asnah sebagai anak angkat. Walaupun begitu, mereka berdua masih memiliki hubungan darah. Kedua bersaudara itu saling mengasihi, sampai tiba waktunya mereka beranjak dewasa. Hingga akhirnya dalam diri Asnah tumbuh rasa cinta layaknya seorang kekasih kepada Asri, namun perasaan rendah diri sebagai seorang anak angkat sekaligus orang yang berhutang budi kepada keluarga Asri mendorongnya untuk menyimpan isi hatinya rapat-rapat, bahkan mendukung Asri memenuhi harapan ibunya untuk segera berumah tangga.
Akibat cinta yang tidak dapat dilanjuti, Asri pun menikah dengan seorang anak bangsawan bernama Saniah dimana keluarga tersebut masih memegang erat adat lama. Namun pernikahan Asri dengan Saniah tidak berjalan dengan semestinya. Hampir setiap hari, pasti terjadi percekcokan diantara mereka. Sampai suatu saat, Saniah ‘kabur’ dari rumah gadang Asri dan dalam perjalanannya mengalami kecelakaan dimana mobilnya masuk ke dalam jurang. Saniah pun meninggal dunia.
Pada akhirnya, Asri dan Asnah pun menikah di luar adat dan mereka pun menempuh hidup baru di Jakarta. Setelah beberapa tahun, orang dari kampung halaman Asri pun meminta dia sebagai ketua desa karena mereka menginginkan seseorang yang berintelektual tinggi.
Tujuan dari menganalisis novel ini yaitu bagaimana persoalan adat memicu konflik intern keluarga. Seperti apa keadaan Asnah menghadapi kondisinya yang terjebak dalam dua pilihan. Serta bagaimana pertentangan Cinta dan Keluarga dihadapi oleh Asnah.


B. Pendekatan yang digunakan
Pendekatan yang digunakan dalam novel ini adalah pendekatan struktural, terdapat alur yang jelas, latar/setting, penokohan yang tepat, tema dan sebagainya. Pada awal cerita, dapat dilihat dari judul buku ini yang merupakan “Salah Pilih” dapat diterka bahwa seseorang yang telah salah dalam menentukan pilihannya. Asri dan Asnah. Dilihat dari namanya, Asri memang terdengar lebih pantas jika ia adalah seorang wanita, tapi didalam cerita ini Asri merupakan seorang lelaki dan sebaliknya Asnah merupakan seorang wanita. Asnah dan Asri sudah seperti keluarga sendiri dimana mereka sudah seperti kakak adik saja. Di mata ibunya, hanya Asnah yang bisa merawatnya dengan baik. Tidak ada orang lain yang bisa merawatnya selain Asnah. Asnah sudah sekian lama menunggu kedatangan Asri yang tak kunjung datang.
Banyak kata-kata yang digunakan untuk menulis cerita ini tidak dipakai lagi dalam perbincangan sehari-hari, dan banyak kata-kata yang dipakai berasal dari Padang. Secara tidak langsung, gaya bahasa yang digunakan menunjukan juga latar tempat dan waktu cerita ini seperti contohnya berkalang dan H.I.S. Terkadang, jika pembaca kurang mengerti bahasa Padang, kita akan merasakan adanya kejanggalan dan ketidak cocokan dalam pemilihan kata, atau diksi Nur St. Iskandar.
Novel Salah Pilih tertulis dengan sudut pandang yang menyebabkan narator bagaikan ‘Dewa’ dimana dia dapat merasakan dan melihat segala sesuatu yang terjadi dalam cerita tersebut. Jika cerita ini tidak ditulis menggunakan sudut pandang tersebut, akan ada banyak perbedaan dalam alur cerita tersebut, dan kita mungkin tidak dapat mengetahui perasaan semua tokoh dengan secara mendalam.
Dengan dipergunakannya sudut pandang ini pun, majas ironi dramatis pun ditunjukkan pada saat Saniah pergi dengan ibunya secara diam-diam dan kecelakaan pun terjadi, dan Asri tidak mengetahuinya sampai waktu yang cukup lama. Dibagian tersebut pun saya rasa cerita tersebut menyampai klimaks dan menemukan resolusinya.
Plot cerita disini saya rasa cukup cepat karena terkesan lebih ‘to the point’ atau langsung ke titik utama persoalan, dengan sub-plot yang tidak terlalu banyak. Latar waktu cerita ini pun kadang loncat-loncat dari satu saat maju ke tahun atau bulan yang berbeda. Ini memberikan efek terhadap detil-detil apa yang terjadi pada waktu yang tidak diceritakan tersebut. Mungkin pertengkaran yang dihadapi Asri dan Saniah, atau mungkin ada beberapa hari dimana rumah gadang tersebut harmonis.
Latar tempat cerita ini pertama-tama tidak digambarkan secara langsung, tetapi banyak imagery dan diksi-diksi yang membantu kita memahami latar tempat tersebut, seperti ‘rumah gadang’ dan sebagainya. Latar tempat diambil di daerah Padang karena di sini, bukan hanya agama yang terpenting, tetapi adat budaya Minangkabau lah yang menjadi patokan. Latar tempat mempunyai efek terhadap konflik yang dihadapi Asri dan juga watak tokoh-tokoh. Jika cerita ini tidak terjadi di Padang, mungkin Asri tidak usah ‘salah pilih’ pendamping hidupnya, dan memendam rasa cinta terhadap Asnah. Dan juga mungkin Saniah mempunyai watak yang berbeda dari yang diceritakan pada novel.
Latar waktu tidak begitu digambarkan dengan spesifik, tetapi pada akhir buku, dimana mereka membicarakan tentang seorang pahlawan kita yaitu Kartini dan sekolah yang didirikannya ketika pada masa itu, maka kita dapat memprediksi kalau cerita ini terjadi sekitar tahun 1920-1940an.


C. Analisis

Dalam kenyataannya di kehidupan nyata, pernikahan tidak sedarah boleh saja dilakukan karena tidak ada ikatan tali darah yang mengalir dalam tubuh Asnah dan Asri, Karena Asnah merupakan anak angkat dari keluarga Asri yang diangkat oleh ibu Asri itu sendiri. Ibu Asri begitu saying dengan Asnah seperti anak kandungnya sendiri.meskipun hidup serumah dalam keluarga yang harmonis. Hanya saja, keadaan seperti yang diceritakan pada novel Salah Pilih itu terjadi dalam adat Padang, yang melarang perkawinan sedarah. Cinta pada hakekatnya tidak bisa memilih mana orang yang akan kita pilih dan sukai, namun cinta datang begitu saja mengalir apa adanya tidak bisa dipaksakan.
Dengan rapi pula, Nur Sutan Iskandar membangun konflik diantara tokoh sekaligus menyampaikan pesan moral. Kisah terjebaknya Asnah dalam dua pilihan pun, meyebabkan perempuan ini terlihat polos dan lugu juga wajar dan alami. Orang lugu yang menerima kebaikan orang lain dan merasa berkewajiban membalasnya. Namun cerita mulai berjalan terlalu cepat dan tidak seimbang ketika memasuki akhir. Terkesan penulis tidak berbelit-belit untuk menyampaikan isi cerita kepada pembaca.
Saniah adalah wanita yang mempunyai karakter sombong, dan sangat buruk. Akan tetapi Asri menilai Saniah adalah wanita yang cantik, baik hati dan mempunyai paras yang elok. Setelah menikah dengan Saniah, Asri baru mengetahui sifat asli istrinya tersebut. Bahwa istrinya itu mempunyai karakter sombong, angkuh dan juga kasar. Karena diam-diam tanpa sepengetahuan Asri, Saniah sering sekali kerap menyiksa Asnah ketika Asri keluar rumah. Dalam cerita ini, tema tersampaikan jelas oleh sang pengarang, pembaca sudah dapat merasakan unsur lika-liku kehidupan, unsur adat, bahasa, dan juga unsur percintaan. Tetapi menurut saya tema pokok dari cerita ini merupakan cerita tentang percintaan dalam tubuh persaudaraan atau keluarga. Ini terlihat jelas karena menunjukkan hubungan Asri dan Asnah yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk bersatu karena adat keduanya adalah saudara meskipun hanya saudara angkat, selain adat istiadat yang menuntut dan juga unsur saudara jauh yang tidak bisa mereka langgar.
Cerita ini kurang lebih menceritakan tentang kehidupan tetapi juga dibumbui oleh cerita percintaan Asri dengan Asnah. Diam –diam kedua insan itu saling mencintai, akan tetapi keduanya terpaut hubungan adat yang tidak membolehkan keduanya untuk bersatu. Karena adat daerah Padang yang tidak memungkinkan bagi Asnah dan Asri bersatu, bagaimanapun juga mereka dianggap masih satu darah, maka dari itu kemungkinan sangat kecil untuk mereka untuk bersatu karena perkawinan satu darah tidak diperbolehkan adat daerah mereka namun akhirnya tetap dilangsungkan meski harus pergi keluar daerah adat mereka.

D. Kesimpulan

Secara keseluruhan, tema utama novel Salah Pilih adalah romansa, dan seperti judul buku ini, secara lebih mendalam, tema utamanya adalah: ‘Pilihlah orang yang tepat untuk pendamping hidup kalian masing-masing, jangan sampai salah memilih cinta karena akan berdampak buruk di kehidupan akan datang, dan cinta tidak dapat dipaksakan oleh siapapun yang menghalangi sucinya cinta.’ Tema tersebut ditonjolkan dari rangkaian plot dan konflik-konflik yang menerjang tokoh-tokoh dalam cerita Salah Pilih tersebut.
Alur yang digunakan dalam cerita ini adalah alur kronologis, dan ini pun mempunyai efek yang signifikans terhadap konflik-konflik yang dihadapi tokoh-tokoh utama. Karena plot tersebut tertulis dalam alur kronologis, konflik pun mempunyai sebab dan akibat yang pasti. Contohnya adalah konflik yang dihadapi rumah tangga Asri. Karena dia menikahi orang yang dia belum tentu mencintainya dan belum begitu mengenal wataknya, rumah tangga dia menjadi kurang harmonis.
Meskipun ceritanya termasuk ketinggalan jaman, akan tetapi pengarang tentu mempunyai maksud dan tujuan tertentu agar pembacanya tidak bosan agar tetap membaca novel karangannya ini.


E. Daftar Pustaka

Iskandar, Nur St. 2006. Salah Pilih. Jakarta : Balai Pustaka.
Nurgiyantoro, Burhan. 1994. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakara: Gadjah Mada University Press.
Wiyatmi. 2004. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Cinta Kasih Guru dalam Novel "Pertemuan Dua Hati"

A. Pendahuluan

Pengarang Nh Dini lahir tanggal 29 Februari 1936 di Semarang. Setamat SMA bagian Sastra (1959), ia mengikuti kursus Pramugari Darat GIA Jakarta (1956), dan terakhir mengikuti kursus B-1 Jurusan Sejarah (1957). Nh.Dini mulai menulis sejak tahun 1951. Pada tahun 1953 cerpen-cerpennya mulai dimuat di majalah Kisah, Mimbar Indonesia, dan Siasat. Selain menulis cerpen, Dini juga menulis sajak dan sandiwara radio, serta novel. Berbagai penghargaan telah diterimanya, antara lain pemenang Lomba Penulisan Naskah Skenario untuk sandiwara radio se-Jawa Tengah (1955), mendapat hadiah pertama untuk Lomba Penulisan Cerita Pendek dalam Bahasa Prancis se-Indonesia untuk cerpennya Sarang Ikan di Teluk Jakarta (1988).
Pada tahun 1989 ia mendapat Hadiah Seni dari Kementerian P dan K untuk bidang Sastra. Pada tahun 1991 Dini kembali memperoleh Piagam Penghargaan Upapradana dari Pemda TK I Jawa Tengah. Selain terus berkarya, Dini juga sibuk menerima undangan-undangan ceramah mengenai sastra dan budaya di dalam dan luar negeri. Selain itu, ia juga mengelola sebuah taman bacaan untuk remaja dan anak-anak di Semarang, yang kegiatannya mencakup latihan Bahasa Indonesia dan diskusi.
Novel Pertemuan Dua Hati terkesan hendak menggambarkan betapa beratnya menjunjung tinggi rasa idealisme profesi Bu Suci sebagai guru.. Bu Suci yang harus menghadapi kenyataan bahwa anaknya sakit ayan, muridnya yang nakal, dan susuah diatur yang selalu membuat kekacauan, serta rekan sejawatnya yang kurang memberi dukungan. Dengan keyakinan itu, betapapun beratnya, akhirnya dapat pula Bu Suci menjalankan kewajiban sebagai Ibu dan seorang guru dengan sebaik – baiknya.
Didalam novel ini mempunyai tujuan analisis ini yaituMendeskripsikan latar belakang keluarga Waskito sehingga membuatnya menjadi anak yang keras sulit diatur.Menemukan perubahan yang menunjukkan kemajuan mental dalam diri Waskito. Mendeskripsikan kiat-kiat yang dilakukan Bu Suci menghadapi problematika hidupnya. Serta mendeskripsikan pesan moral yang disampaikan dalam novel Pertemuan Dua Hati.


B. Pendekatan yang digunakan

Dalam novel Pertemuan Dua Hati menggunakan teori kritik sastra feminis untuk menganalisis teks karangan NH. Dini ini yang diungkapkan mengenai timbulnya berbagai isu wanita atau permasalahan wanita. Novel ini yang pertama kali menceritakan tentang pendidikan. Bu Suci adalah seorang guru SD. Hampir 10 th mengajar di Purwodadi. Dia tinggal bersama suami, 3 orang anaknya dan uwaknya. Suaminya bekerja sebagai montir di sebuah perusahaan di kotanya.
Sedangkan Anak keduanya sakit panas, batuk dan selesma. Bu Suci membawanya ke dokter umum. Setelah beberapa hari, kulitnya di tumbuhi bintik-bintik merah dan terasa gatal. Setelah beberapa hari batuk, selesma dan bintik-bintik itu hilang kini anaknya tersebut merasa sakit kepala.
Suaminya menyampaikan kertas-kertas hasil pemeriksaan kesehatan keluarganya. Menurut dokter perusahaan anak keduanya harus dibawa ke dokter syaraf/neurolog. Berhari-hari Bu Suci dan anaknya mondar-mandir rumah sakit untuk menjalani serangkaian pemeriksaan anaknya. Hasilnya, ternyata anaknya menderita penyakit ayan/ sawan/ epilepsy. Bu Suci mengunjungi Nenek Waskito untuk kedua kalinya. Neneknya menceritakan bahwa kini Waskito tinggal bersama Budenya. Pada suatu hari Waskito masuk sekolah. Dihari itu Bu Suci meminta beberapa orang siswanya untuk berpindah tempat duduk. Ia juga meminta Waskito untuk pindah namun Waskito tidak mau.



C. Analisis

Hari pertama Bu Suci memperkenalkan diri kepada murid-muridnya dan mengabsen kehadiran muridnya. Hari itu ada 3 anak yang tidak hadir, salah satunya adalah Waskito. Setelah empat hari mengajar, Waskito belum juga masuk. Bu Suci menanyakan kepada murid-muridnya tentang ketidak hadiran Waskito. Namun dari murid-muridnya, dia mengetahui bahwa teman-temannya tidak menyukai Waskito.
Menurut guru-guru yang pernah mengajar kelas tersebut, mereka menganggap Waskito sebagai murid yang sukar. Kemarahan dan ketenangannya didorong oleh hati yang kekurangan perhatian dari keluarganya. Bu Suci mengirim surat kepada Nenek Waksito. Sore hari yang telah ditentukan, Bu Suci mengunjungi rumah Nenek Waksito. Dari Neneknya dia memperoleh banyak informasi tentang Waksito. Bahwa Waksito pernah dipukul oleh ayahnya karena dia membolos. Selama berada dirumah orangtuanya dia tidak pernah ditegur, diberi tahu mana yang baik dan buruk. Tetapi selama tinggal 1,5 tahun dirumah Neneknya, Waskito bersikap manis, sopan, sering mengerjakan tugas rumah, masuk sekolah secara teratur. Hasilnya Waskito menjadi murid yang normal. Rapotnya menunjukan kemajuan. Namun, orang tuanya mengambilnya kembali.
Semakin hari semakin Waskito menunjukkan perubahan menuju kebaikan. Suatu hari sekolah melaksanakan pelajaran turun ke lapangan. Guru-guru dan murid-murid mengunjungi pabrik makanan. Terlihat, Waskito aktif bertanya tentang mesin pembuat makanan. Bu Suci membentuk kelompok-kelompok di kelasnya. Setiap kelompok diberi tugas untuk membuat bejana berhubungan. Ternyata hasil karya kelompok Waskito yang paling sempurna Bu Suci memberikan tugas kelompok membuat kebun binatang.Karya kelompok Waskito yang paling bagus. Selama tiga bulan keadaan tenang. Waskito tidak membuat onar. Pada waktu istirahat Waskito mengamuk. Guru-guru mengusulkan agar Waskito dikeluarkan dari sekolah.
Bu Suci mempertahankan muridnya tersebut. Dia meminta waktu satu bulan kepada sekolah. Kepala Sekolah pun mengabulkan permintaannya. Sejak kejadian itu, pada waktu istirahat Bu Suci lebih sering berada dikelas. Bu Suci pun sering mengobrol dengan Waskito. Bu Suci merasa lebih dekat dengan muridnya tersebut. Pada raport berikutnya berisi angka-angka normal. Waskito tidak pernah mengacau seperti yang dilakukannya tempo hari. Bu suci pun menepati janjinya, Waskito ikut memancing sepuas hatinya di Purwodadi bersama keluarga Bu Suci.
Pada akhir tahun pelajaran, Waskito naik kelas. Budenya datang ke sekolah berterima kasih kepada Kepala Sekolah, guru-guru terutama kepada Bu Suci. Atas keuletannya, Waskito menjadi murid yang luar biasa. Bu Suci berhasil melaksanakan tugas dan kewajibannya, baik sebagi ibu untuk anaknya yang mempunyai sakit ayan dan sebagai guru yang harus membawa muridnya kembali kepada sekolah dan menjadi anak yang sewajarnya seperti anak –anak yang lainnya. Bu Suci yang pada awalnya ragu untuk menjalani permasalahan dalam hidupnya, mengharuskan dirinya untuk tidak memilih diaatara salah satu permasalahan yang sedang Bu Suci hadapi.
Namun ia tetap ingin memberikan yang terbaik kepada anak kandungnya sendiri agar sehat dan sembuh dari penyakit ayannya, namun disisi lain ia pun harus membawa muridnya Waskito untuk kembali kesekolah. Pada awalnya Bu Suci ragu, namun setelah menyakinkan dirinya sendiri untuk bisa melaksanakan tugas dan kewajiabannya akhirnya apa yang ia inginkan selama ini memebuahkan hasil. Anak bungsunya mengalami perubahan, ia sekarang terlihat jarang kambuh lagi dari ayannya dan Waskito anak didiknya juga mengalamai perubahan hingga yang bisa membuat hatinya senang dan orang lain pun menjadi lega. Waskito menjadi anak yang baik, santun lagi rajin dalam bersekolah, nilai yang dihasilkan pun tidak seburuk seperti dulu lagi, ia pun selalu naik kelas dan membantu teman - teman sebayanya. Begitulah usah Bu Suci menghadapi masalah demi masalah yang menimpanya. Ketegaran dan kesabaran Bu Suci membuahkan hasil yang tidak sia-sia.
Setiap permasalahaan yang dialami anak didik maupun anak itu adalah permaslalahan yang berasal dari lingkungan disekitarnya yang membuatnya berubah menjadi anak yang berbeda dengan anak yang lainnya. Jangan sampai sebagi guru hanya bisa mengucilkan dan merehkan setiap hasil anak didik kita, karena sekecil apa pun yang anak didik atau murid itu goreskan dikertas putih itu lah hasil yang maksimal yang ia bisa lakukan semampu dirinya, karena kemampuan setiap anak pasti berbeda jadi jangan bedakan dan jangan samakan anak yang satu dengan anak yang lainnya karena setiap manusia bahkan anak-anak pun pasti memiliki kelebihan maupun kekurangan yang beraneka ragam pula.



D. Kesimpulan

Novel karya Nh. Dini yang berjudul Pertemuan Dua Hati ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa kita harus sabar dan tabah dalam menghadapi persoalan hidup. Jangan pernah menganggap remeh seseorang dan memandang hanya dari sisi buruknya saja. Apalagi orang tersebut adalah anak didik kita yang harus dibimbing ke jalan yang benar agar tidak salah jalan dan dididik agar kelak bisa menjadi anggota masyarakat yang semestinya dan berkompeten dalam kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi masalah keluarga juga tidak boleh dinomor duakan, keduanya harus berjalan seiringan hingga kita benar-benar mendapatkan apa yang kita cari yakni kebahagiaan..


D. Daftar Pustaka

Media.Wiyatmi. 2004. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Nh. Dini.2009. Pertemuan Dua Hati. Jakarta: PT Gramedia
Nurgiyantoro, Burhan.2005.Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakara: Gadjah Mada University Press.Sayuti, Suminto A.2000.Berkenalan dengan Prosa Fiksi.Yogyakarta: Gama Media.

Jumat, 02 Maret 2012

Idealisme Tokoh Utama dalam Novel "Pertemuan Dua Hati"

Pendahuluan

Nh Dini lahir tanggal 29 Februari 1936 di Semarang. Setamat SMA bagian Sastra (1959), ia mengikuti kursus Pramugari Darat GIA Jakarta (1956), dan terakhir mengikuti kursus B-1 Jurusan Sejarah (1957). Nh.Dini mulai menulis sejak tahun 1951. Pada tahun 1953 cerpen-cerpennya mulai dimuat di majalah Kisah, Mimbar Indonesia, dan Siasat. Selain menulis cerpen, Dini juga menulis sajak dan sandiwara radio, serta novel. Berbagai penghargaan telah diterimanya, antara lain pemenang Lomba Penulisan Naskah Skenario untuk sandiwara radio se-Jawa Tengah (1955), mendapat hadiah pertama untuk Lomba Penulisan Cerita Pendek dalam Bahasa Prancis se-Indonesia untuk cerpennya Sarang Ikan di Teluk Jakarta (1988).
Pada tahun 1989 ia mendapat Hadiah Seni dari Kementerian P dan K untuk bidang Sastra. Pada tahun 1991 Dini kembali memperoleh Piagam Penghargaan Upapradana dari Pemda TK I Jawa Tengah. Selain terus berkarya, Dini juga sibuk menerima undangan-undangan ceramah mengenai sastra dan budaya di dalam dan luar negeri. Selain itu, ia juga mengelola sebuah taman bacaan untuk remaja dan anak-anak di Semarang, yang kegiatannya mencakup latihan Bahasa Indonesia dan diskusi.
Novel Pertemuan Dua Hati terkesan hendak menggambarkan betapa beratnya menjunjung tinggi rasa idealisme profesi Bu Suci sebagai guru.. Bu Suci yang harus menghadapi kenyataan bahwa anaknya sakit ayan, muridnya yang nakal, dan susuah diatur yang selalu membuat kekacauan, serta rekan sejawatnya yang kurang memberi dukungan. Dengan keyakinan itu, betapapun beratnya, akhirnya dapat pula Bu Suci menjalankan kewajiban sebagai Ibu dan seorang guru dengan sebaik – baiknya.
Didalam novel ini mempunyai tujuan analisis ini yaituMendeskripsikan latar belakang keluarga Waskito sehingga membuatnya menjadi anak yang keras sulit diatur.Menemukan perubahan yang menunjukkan kemajuan mental dalam diri Waskito. Mendeskripsikan kiat-kiat yang dilakukan Bu Suci menghadapi problematika hidupnya. Serta mendeskripsikan pesan moral yang disampaikan dalam novel Pertemuan Dua Hati.


Pembahasan Teori

Dalam novel Pertemuan Dua Hati menggunakan teori kritik sastra feminis untuk menganalisis teks karangan NH. Dini ini yang diungkapkan mengenai timbulnya berbagai isu wanita atau permasalahan wanita.
Novel ini yang pertama kali menceritakan tentang pendidikan. Bu Suci adalah seorang guru SD. Hampir 10 th mengajar di Purwodadi. Dia tinggal bersama suami, 3 orang anaknya dan uwaknya. Suaminya bekerja sebagai montir di sebuah perusahaan di kotanya.
Anak keduanya sakit panas, batuk dan selesma. Bu Suci membawanya ke dokter umum. Setelah beberapa hari, kulitnya di tumbuhi bintik-bintik merah dan terasa gatal. Setelah beberapa hari batuk, selesma dan bintik-bintik itu hilang kini anaknya tersebut merasa sakit kepala.
Suaminya menyampaikan kertas-kertas hasil pemeriksaan kesehatan keluarganya. Menurut dokter perusahaan anak keduanya harus dibawa ke dokter syaraf/neurolog. Berhari-hari Bu Suci dan anaknya mondar-mandir rumah sakit untuk menjalani serangkaian pemeriksaan anaknya. Hasilnya, ternyata anaknya menderita penyakit ayan/ sawan/ epilepsy. Bu Suci mengunjungi Nenek Waskito untuk kedua kalinya. Neneknya menceritakan bahwa kini Waskito tinggal bersama Budenya. Pada suatu hari Waskito masuk sekolah. Dihari itu Bu Suci meminta beberapa orang siswanya untuk berpindah tempat duduk. Ia juga meminta Waskito untuk pindah namun Waskito tidak mau.


Hasil Analisis

Hari pertama Bu Suci memperkenalkan diri kepada murid-muridnya dan mengabsen kehadiran muridnya. Hari itu ada 3 anak yang tidak hadir, salah satunya adalah Waskito. Setelah empat hari mengajar, Waskito belum juga masuk. Bu Suci menanyakan kepada murid-muridnya tentang ketidak hadiran Waskito. Namun dari murid-muridnya, dia mengetahui bahwa teman-temannya tidak menyukai Waskito.
Menurut guru-guru yang pernah mengajar kelas tersebut, mereka menganggap Waskito sebagai murid yang sukar. Kemarahan dan ketenangannya didorong oleh hati yang kekurangan perhatian dari keluarganya. Bu Suci mengirim surat kepada Nenek Waksito. Sore hari yang telah ditentukan, Bu Suci mengunjungi rumah Nenek Waksito. Dari Neneknya dia memperoleh banyak informasi tentang Waksito. Bahwa Waksito pernah dipukul oleh ayahnya karena dia membolos. Selama berada dirumah orangtuanya dia tidak pernah ditegur, diberi tahu mana yang baik dan buruk. Tetapi selama tinggal 1,5 th dirumah Neneknya, Waskito bersikap manis, sopan, sering mengerjakan tugas rumah, masuk sekolah secara teratur. Hasilnya Waskito menjadi murid yang normal. Rapotnya menunjukan kemajuan. Namun, orang tuanya mengambilnya kembali.
Semakin hari semakin Waskito menunjukkan perubahan menuju kebaikan. Suatu hari sekolah melaksanakan pelajaran turun ke lapangan. Guru-guru dan murid-murid mengunjungi pabrik makanan. Terlihat, Waskito aktif bertanya tentang mesin pembuat makanan. Bu Suci membentuk kelompok-kelompok di kelasnya. Setiap kelompok diberi tugas untuk membuat bejana berhubungan. Ternyata hasil karya kelompok Waskito yang paling sempurna Bu Suci memberikan tugas kelompok membuat kebun binatang.Karya kelompok Waskito yang paling bagus. Selama tiga bulan keadaan tenang. Waskito tidak membuat onar. Pada waktu istirahat Waskito mengamuk. Guru-guru mengusulkan agar Waskito dikeluarkan dari sekolah.
Bu Suci mempertahankan muridnya tersebut. Dia meminta waktu satu bulan kepada sekolah. Kepala Sekolah pun mengabulkan permintaannya. Sejak kejadian itu, pada waktu istirahat Bu Suci lebih sering berada dikelas. Bu Suci pun sering mengobrol dengan Waskito. Bu Suci merasa lebih dekat dengan muridnya tersebut. Pada raport berikutnya berisi angka-angka normal. Waskito tidak pernah mengacau seperti yang dilakukannya tempo hari. Bu suci pun menepati janjinya, Waskito ikut memancing sepuas hatinya di Purwodadi bersama keluarga Bu Suci.
Pada akhir tahun pelajaran, Waskito naik kelas. Budenya datang ke sekolah berterima kasih kepada Kepala Sekolah, guru-guru terutama kepada Bu Suci. Atas keuletannya, Waskito menjadi murid yang luar biasa.
Bu Suci berhasil melaksanakan tugas dan kewajibannya, baik sebagi ibu untuk anaknya yang mempunyai sakit ayan dan sebagai guru yang harus membawa muridnya kembali kepada sekolah dan menjadi anak yang sewajarnya seperti anak –anak yang lainnya. Bu Suci yang pada awalnya ragu untuk menjalani permasalahan dalam hidupnya, mengharuskan dirinya untuk tidak memilih diaatara salah satu permasalahan yang sedang Bu Suci hadapi.
Namun ia tetap ingin memberikan yang terbaik kepada anak kandungnya sendiri agar sehat dan sembuh dari penyakit ayannya, namun disisi lain ia pun harus membawa muridnya Waskito untuk kembali kesekolah. Pada awalnya Bu Suci ragu, namun setelah menyakinkan dirinya sendiri untuk bisa melaksanakan tugas dan kewajiabannya akhirnya apa yang ia inginkan selama ini memebuahkan hasil. Anak bungsunya mengalami perubahan, ia sekarang terlihat jarang kambuh lagi dari ayannya dan Waskito anak didiknya juga mengalamai perubahan hingga yang bisa membuat hatinya senang dan orang lain pun menjadi lega. Waskito menjadi anak yang baik, santun lagi rajin dalam bersekolah, nilai yang dihasilkan pun tidak seburuk seperti dulu lagi, ia pun selalu naik kelas dan membantu teman – teman sebayanya. Begitulah usah Bu Suci menghadapi masalah demi masalah yang menimpanya. Ketegaran dan kesabaran Bu Suci membuahkan hasil yang tidak sia-sia.
Setiap permasalahaan yang dialami anak didik maupun anak itu adalah permaslalahan yang berasal dari lingkungan disekitarnya yang membuatnya berubah menjadi anak yang berbeda dengan anak yang lainnya. Jangan sampai sebagi guru hanya bisa mengucilkan dan merehkan setiap hasil anak didik kita, karena sekecil apa pun yang anak didik atau murid itu goreskan dikertas putih itu lah hasil yang maksimal yang ia bisa lakukan semampu dirinya, karena kemampuan setiap anak pasti berbeda jadi jangan bedakan dan jangan samakan anak yang satu dengan anak yang lainnya karena setiap manusia bahkan anak-anak pun pasti memiliki kelebihan maupun kekurangan yang beraneka ragam pula.


Kesimpulan

Novel karya Nh. Dini yang berjudul Pertemuan Dua Hati ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa kita harus sabar dan tabah dalam menghadapi persoalan hidup. Jangan pernah menganggap remeh seseorang dan memandang hanya dari sisi buruknya saja. Apalagi orang tersebut adalah anak didik kita yang harus dibimbing ke jalan yang benar agar tidak salah jalan dan dididik agar kelak bisa menjadi anggota masyarakat yang semestinya dan berkompeten dalam kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi masalah keluarga juga tidak boleh dinomor duakan, keduanya harus berjalan seiringan.




Referensi

Nh. Dini.2009. Pertemuan Dua Hati. Jakarta: PT Gramedia
Nurgiyantoro, Burhan.2005.Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakara: Gadjah Mada University Press.Sayuti, Suminto A.2000.Berkenalan dengan Prosa Fiksi.Yogyakarta: Gama Media.Wiyatmi. 2004. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Salah Pilih Pasangan Hidup dalam Novel "Salah Pilih"

Salah Memilih Pasangan Hidup Serta Petentangan Adat dalam Novel "Salah Pilih"

Oleh: Ardi Kusuma


Novel yang berjudul Salah Pilih karangan Nur St. Iskandar ini memiliki cerita cinta yang menarik bagi pembaca untuk membacanya karena ceritanya tidak berbelit-belit meskipun dalam bahasanya menggunakan bahasa melayu. Novel ini menceritakan tentang adat minangkabau yang beragam dan bervariasi. Cerita cinta Asnah dan Asri yang begitu menarik dan asyik untuk dibaca karena ceritanya yang mungkin sangat menarik untuk dibaca. Karena kurang lebih ceritanya serupa dengan cerita cinta di sinetron-sinetron Indonesia dengan gaya bahasa yang dramatis dan Lebay berlebih-lebihan.
Tokoh utama dalam cerita ini, yaitu Asnah dan Asri, yang mempunyai watak sangat berbeda walaupun mereka dari satu suku yang mempunyai adat-istiadat yang serupa. Asnah mempunyai watak sabar, baik, lemah lembut dan sopan. Sedangkan Asri, mempunyai watak, baik, bijaksana, dan mempunyai pekerti yang luhur. Dia adalah seorang tokoh bulat yang wataknya pun bulat, dimana dia berganti dari seseorang yang lemah lembut, romantik dan sabar, menjadi seseorang yang cepat marah setelah menikah dengan Saniah.
Novel Salah Pilih karangan Nur St. Iskandar menceritakan tentang sepasang adik-kakak bernama Asri dan Asnah yang mencintai satu sama lain. Walaupun bersaudara, mereka tidak bisa dikatakan bersaudara kandung karena ibu asri mengangkat Asnah sebagai anak angkat. Walaupun begitu, mereka berdua masih memiliki hubungan darah. Kedua bersaudara itu saling mengasihi, sampai tiba waktunya mereka beranjak dewasa. Hingga akhirnya dalam diri Asnah tumbuh rasa cinta layaknya seorang kekasih kepada Asri, namun perasaan rendah diri sebagai seorang anak angkat sekaligus orang yang berhutang budi kepada keluarga Asri mendorongnya untuk menyimpan isi hatinya rapat-rapat, bahkan mendukung Asri memenuhi harapan ibunya untuk segera berumah tangga.
Akibat cinta yang tidak dapat dilanjuti, Asri pun menikah dengan seorang anak bangsawan bernama Saniah dimana keluarga tersebut masih memegang erat adat lama. Namun pernikahan Asri dengan Saniah tidak berjalan dengan semestinya. Hampir setiap hari, pasti terjadi percekcokan diantara mereka. Sampai suatu saat, Saniah ‘kabur’ dari rumah gadang Asri dan dalam perjalanannya mengalami kecelakaan dimana mobilnya masuk ke dalam jurang. Saniah pun meninggal dunia.
Pada akhirnya, Asri dan Asnah pun menikah di luar adat dan mereka pun menempuh hidup baru di Jakarta. Setelah beberapa tahun, orang dari kampung halaman Asri pun meminta dia sebagai ketua desa karena mereka menginginkan seseorang yang berintelektual tinggi.
Kritik yang saya gunakan dalam mengkritisi novel ini dengan menggunakan pendekatan struktural, terdapat alur yang jelas, latar/setting, penokohan yang tepat, tema dan sebagainya. Pada awal cerita, dapat dilihat dari judul buku ini yang merupakan “Salah Pilih” dapat diterka bahwa seseorang yang telah salah dalam menentukan pilihannya. Asri dan Asnah. Dilihat dari namanya, Asri memang terdengar lebih pantas jika ia adalah seorang wanita, tapi didalam cerita ini Asri merupakan seorang lelaki dan sebaliknya Asnah merupakan seorang wanita. Asnah dan Asri sudah seperti keluarga sendiri dimana mereka sudah seperti kakak adik saja. Di mata ibunya, hanya Asnah yang bisa merawatnya dengan baik. Tidak ada orang lain yang bisa merawatnya selain Asnah. Asnah sudah sekian lama menunggu kedatangan Asri yang tak kunjung datang.
Banyak kata-kata yang digunakan untuk menulis cerita ini tidak dipakai lagi dalam perbincangan sehari-hari, dan banyak kata-kata yang dipakai berasal dari Padang. Secara tidak langsung, gaya bahasa yang digunakan menunjukan juga latar tempat dan waktu cerita ini seperti contohnya berkalang dan H.I.S. Terkadang, jika pembaca kurang mengerti bahasa Padang, kita akan merasakan adanya kejanggalan dan ketidak cocokan dalam pemilihan kata, atau diksi Nur St. Iskandar.
Novel Salah Pilih tertulis dengan sudut pandang yang menyebabkan narator bagaikan ‘Dewa’ dimana dia dapat merasakan dan melihat segala sesuatu yang terjadi dalam cerita tersebut. Jika cerita ini tidak ditulis menggunakan sudut pandang tersebut, akan ada banyak perbedaan dalam alur cerita tersebut, dan kita mungkin tidak dapat mengetahui perasaan semua tokoh dengan secara mendalam.
Dengan dipergunakannya sudut pandang ini pun, majas ironi dramatis pun ditunjukkan pada saat Saniah pergi dengan ibunya secara diam-diam dan kecelakaan pun terjadi, dan Asri tidak mengetahuinya sampai waktu yang cukup lama. Dibagian tersebut pun saya rasa cerita tersebut menyampai klimaks dan menemukan resolusinya.
Plot cerita disini saya rasa cukup cepat karena terkesan lebih ‘to the point’ atau langsung ke titik utama persoalan, dengan sub-plot yang tidak terlalu banyak. Latar waktu cerita ini pun kadang loncat-loncat dari satu saat maju ke tahun atau bulan yang berbeda. Ini memberikan efek terhadap detil-detil apa yang terjadi pada waktu yang tidak diceritakan tersebut. Mungkin pertengkaran yang dihadapi Asri dan Saniah, atau mungkin ada beberapa hari dimana rumah gadang tersebut harmonis.
Latar tempat cerita ini pertama-tama tidak digambarkan secara langsung, tetapi banyak imagery dan diksi-diksi yang membantu kita memahami latar tempat tersebut, seperti ‘rumah gadang’ dan sebagainya. Latar tempat diambil di daerah Padang karena di sini, bukan hanya agama yang terpenting, tetapi adat budaya Minangkabau lah yang menjadi patokan. Latar tempat mempunyai efek terhadap konflik yang dihadapi Asri dan juga watak tokoh-tokoh. Jika cerita ini tidak terjadi di Padang, mungkin Asri tidak usah ‘salah pilih’ pendamping hidupnya, dan memendam rasa cinta terhadap Asnah. Dan juga mungkin Saniah mempunyai watak yang berbeda dari yang diceritakan pada novel.
Latar waktu tidak begitu digambarkan dengan spesifik, tetapi pada akhir buku, dimana mereka membicarakan tentang seorang pahlawan kita yaitu Kartini dan sekolah yang didirikannya ketika pada masa itu, maka kita dapat memprediksi kalau cerita ini terjadi sekitar tahun 1920-1940an.
Dalam kenyataannya di kehidupan nyata, pernikahan tidak sedarah boleh saja dilakukan karena tidak ada ikatan tali darah yang mengalir dalam tubuh Asnah dan Asri, Karena Asnah merupakan anak angkat dari keluarga Asri yang diangkat oleh ibu Asri itu sendiri. Ibu Asri begitu saying dengan Asnah seperti anak kandungnya sendiri.meskipun hidup serumah dalam keluarga yang harmonis. Hanya saja, keadaan seperti yang diceritakan pada novel Salah Pilih itu terjadi dalam adat Padang, yang melarang perkawinan sedarah. Cinta pada hakekatnya tidak bisa memilih mana orang yang akan kita pilih dan sukai, namun cinta datang begitu saja mengalir apa adanya tidak bisa dipaksakan.
Dengan rapi pula, Nur Sutan Iskandar membangun konflik diantara tokoh sekaligus menyampaikan pesan moral. Kisah terjebaknya Asnah dalam dua pilihan pun, meyebabkan perempuan ini terlihat polos dan lugu juga wajar dan alami. Orang lugu yang menerima kebaikan orang lain dan merasa berkewajiban membalasnya. Namun cerita mulai berjalan terlalu cepat dan tidak seimbang ketika memasuki akhir. Terkesan penulis tidak berbelit-belit untuk menyampaikan isi cerita kepada pembaca.
Saniah adalah wanita yang mempunyai karakter sombong, dan sangat buruk. Akan tetapi Asri menilai Saniah adalah wanita yang cantik, baik hati dan mempunyai paras yang elok. Setelah menikah dengan Saniah, Asri baru mengetahui sifat asli istrinya tersebut. Bahwa istrinya itu mempunyai karakter sombong, angkuh dan juga kasar. Karena diam-diam tanpa sepengetahuan Asri, Saniah sering sekali kerap menyiksa Asnah ketika Asri keluar rumah. Dalam cerita ini, tema tersampaikan jelas oleh sang pengarang, pembaca sudah dapat merasakan unsur lika-liku kehidupan, unsur adat, bahasa, dan juga unsur percintaan. Tetapi menurut saya tema pokok dari cerita ini merupakan cerita tentang percintaan dalam tubuh persaudaraan atau keluarga. Ini terlihat jelas karena menunjukkan hubungan Asri dan Asnah yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk bersatu karena adat keduanya adalah saudara meskipun hanya saudara angkat, selain adat istiadat yang menuntut dan juga unsur saudara jauh yang tidak bisa mereka langgar.
Cerita ini kurang lebih menceritakan tentang kehidupan tetapi juga dibumbui oleh cerita percintaan Asri dengan Asnah. Diam-diam kedua insan itu saling mencintai, akan tetapi keduanya terpaut hubungan adat yang tidak membolehkan keduanya untuk bersatu. Karena adat daerah Padang yang tidak memungkinkan bagi Asnah dan Asri bersatu, bagaimanapun juga mereka dianggap masih satu darah, maka dari itu kemungkinan sangat kecil untuk mereka untuk bersatu karena perkawinan satu darah tidak diperbolehkan adat daerah mereka namun akhirnya tetap dilangsungkan meski harus pergi keluar daerah adat mereka.
Secara keseluruhan, tema utama novel Salah Pilih adalah romansa, dan seperti judul buku ini, secara lebih mendalam, tema utamanya adalah: “Pilihlah orang yang tepat untuk pendamping hidup kalian masing-masing, jangan sampai salah memilih cinta karena akan berdampak buruk di kehidupan akan datang, dan cinta tidak dapat dipaksakan oleh siapapun yang menghalangi sucinya cinta”. Tema tersebut ditonjolkan dari rangkaian plot dan konflik-konflik yang menerjang tokoh-tokoh dalam cerita Salah Pilih tersebut.
Alur yang digunakan dalam cerita ini adalah alur kronologis, dan ini pun mempunyai efek yang signifikans terhadap konflik-konflik yang dihadapi tokoh-tokoh utama. Karena plot tersebut tertulis dalam alur kronologis, konflik pun mempunyai sebab dan akibat yang pasti. Contohnya adalah konflik yang dihadapi rumah tangga Asri. Karena dia menikahi orang yang dia belum tentu mencintainya dan belum begitu mengenal wataknya, rumah tangga dia menjadi kurang harmonis.
Meskipun ceritanya termasuk ketinggalan jaman, akan tetapi pengarang tentu mempunyai maksud dan tujuan tertentu agar pembacanya tidak bosan agar tetap membaca novel karangannya ini.



Referensi
Iskandar, Nur Sutan. 2006. Salah Pilih. Jakarta : Balai Pustaka.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakara: Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rahmat Djoko, dkk. 2011. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: PT. Grahita Graha Widya.
Wiyatmi. 2004. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.


Senin, 02 Mei 2011

Puisi Inspirasi "Pojok Jiwa"

Mentari yang cerahkan hari ini
Bersama kata hati yang ku jalani
Terfikir akan malam yang tak peduli
Teringat sudut pojok merah biru dekat tali

Senja usiamu tak kau pedulikan
Tubuhmu yang lemah pakaian tak karuan
Kekuatan tubuhmu yang tak berdaya
Betapa bedanya ketika kau jaya

Manakah anak cucu yang kau miliki
Apa hanya duduk berpangku kaki
Sungguh miris nasibnya didunia
Ketika tak ada yang mempedulikanya

Akankah semuanya itu dapat terjadi
Pada sosok jiwa-jiwa berbudi
Hanya jiwa inilah yang menjawab keadaan
Bagaimana usaha kita dengan kesungguhan
Peka akan keadaan hingga lingkungan
Harus jadikan pendidikan bagai keutamaan
Pengalaman juga pelajara kehidupan.

Oleh: Armha A. Kusuma

Puisi ini saya buat karena mendapat sedikit inspirasi setelah membaca Novel Pertemuan Dua Hati Karya NH Dini yang saya rasa sangatlah luar biasa.

Minggu, 01 Mei 2011

Tentang Ahmad Tohari

Beliau lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948; umur 62 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Ia menamatkan SMA di Purwokerto. Namun demikian, ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976).
Sosok tubuhnya kecil jauh dari pada bayangan figur seorang yang mempunyai prestasi internasional. Caraberpakaiannya sederhana mengingatkan pada seorang santri saleh yang mempunyai wawasan terbuka bisamenerima semua insan di dunia dari segala lapisan untuk hidup berdampingan secara damai sebagai sesamaciptaan Tuhan. Rendah hati, itulah sosok Ahmad Tohari, yang ternyata merupakan salah seorang kawan dekat GusDur.

Siapa yang sangka pula kalau ia seorang haji yang mempunyai pesantren di daerah Banyumas, tempatkelahirannya. Orangnya terbuka, mempunyai rasa kemanusian yang sangat tinggi. Dalam buku yang ditulisnyabanyak mengangkat penderitaan rakyat yang pernah disaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Contohnyabeberapa novel diangkat dengan menceritakan keganasan Peristiwa September 1965, dimana ia melihat denganmata kepala sendiri seorang anak muda dibunuh secara biadab karena diduga PKI. Lalu ada juga kisah tentangkeganasan tentara terhadap Gali yang dibunuh secara misterius.

Bersama Rene Lysloff dari University California of Riverside (UCR) ia ke Amerika Serikat dalam rangkapenterjemahan bukunya ke dalam Bahasa Inggris yang akan diterbitkan oleh Hawaii University.
Press bekerja samadengan Yayasan Lontar Indonesia. Selain itu waktu yang ada ia, manfaatkan dengan memberikan ceramah di UCRdan UCLA, sekaligus juga bertatap muka dengan masyarakat Indonesia di Duarte Inn Center. Dalam dialog diDuarte Inn, ia memaparkan keadaan Indonesia terakhir menurut pengetahuannya.

Ia sangat mencela pengalaman di kampung halamannya ketika menyaksikan pembunuhan orang yang dicap PKI. Iajuga menyayangkan terjadinya Peristiwa Mei 98 yang ditujukan untuk memojokkan suku Tionghoa. Menurutnya, dikampung halamannya, suku Tionghoa menjadi roda penggerak ekonomi. Bahkan ketika ia meminta sumbanganuntuk acara bersama di kampungnya maka ia banyak meminta kepada pengusaha Tionghoa.

Aktif menulis di Kompas dan Tempo. Jika ada kesempatan, ia akan menulis Peristiwa Mei ‘98 agar bisa dikenang sebagai sejarah yang pernah terjadi di Indonesia.


Ia pernah bekerja di majalah terbitan BNI 46, Keluarga, dan Amanah. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat (1990) dan menerima Hadiah Sastra ASEAN (1995)
Karyanya
 Kubah (novel) (novel, 1980)
 Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982)
 Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985)
 Jantera Bianglala (novel, 1986)
 Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986)
 Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1989)
 Bekisar Merah (novel, 1993)
 Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995)
 Nyanyian Malam (kumpulan cerpen, 2000)
 Belantik (novel, 2001)
 Orang Orang Proyek (novel, 2002)
 Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004)
 Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (novel bahasa Jawa, 2006; meraih Hadiah Sastera RancagĂ© 2007
Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman. Edisi bahasa Inggris Ronggeng Dukuh Paruk , Lintang Kemukus Dini Hari , Jantera Bianglala diterbitkan oleh Lontar Foundation dalam satu buku berjudul The Dancerditerjemahkan oleh Rene T.A. Lysloff.

Sumber: Dari berbagai macam Sumber

Pengertian Sastra

Banyak ahli yang mendefenisikan pengertian sastra dapat kita lihat sebagai berikut : Fananie (2000 : 6) mengatakan :
“ Bahwa sastra adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan emosi yang spontan yang mampu mengungkapkan kemampuan aspek keindahan yang baik yang didasarkan aspek kebahasaan maupun aspek makna”.
Sedangkan semi ( 1984 : 8) mengatakan :
“ Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan semi kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahas sebagai mediumnya “.
Teeuw ( 1984 : 23) mengatakan :
“ Kata satra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahas Sansekerta akar kata Sas-, dalam kata kerja turunan berarti mengarahkan, mengajar, memberikan petunjuk atau instruksi. Akhiran kata tra- biasanya menunjukkan alat, suasana. Maka dari sastra dapat berarti, alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi dan pengajaran; misalnya silpasastra, buku arsitektur, kemasastraan, buku petunjuk mengenai seni cerita. Awalan su- berarti baik, indah sehingga susastra dapat dibandingkan dengan berbagai belles letter”.
Kutipan di atas menyatakan, sastra diartikan sebagai alat untuk mengajar, memberi instruksi dan petunjuk kepada pembaca. Wellek dan Warren ( 1987 : 3 ) mengatakan bahwa sastra adalah suatu kajian kreatif, sebuah karya seni. Damono ( 1984 : 10) mengatakan bahwa lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium : bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu adalah merupakan suatu kenyataan sosial
Fananie ( 2000 : 132 ) mengatakan bahwa sastra adalah karya seni yang merupakan ekspresi kehidupan manusia .
Dari keseluruhan defenisi sastra di atas, adalah berdasarkan persepsi masing-masing pribadi dan sifatnya deskriptif, pendapat itu berbeda satu sama lain. Masing-masing ahli merupakan aspek-aspek tertentu, namun yang jelas defenisi tersebut dikemukakan dengan prinsip yang sama yaitu manusia dan lingkungan. Manusia menggunakan seni sebagai pengungkapan segi-segi kehidupan. Ini suatu kreatifitas manusia yang mampu yang mampu menyajikan pemikiran dan pengalaman hidup dengan bentuk seni sastra.
Dari beberapa batasan yang diuraikan di atas dapat disebut beberapa unsur batasan yang selalu disebut untuk unsur-unsur itu adalah isi sastra berupa pikiran, perasaan, pengalaman, ide-ide, semangat kepercayaan dan lain-lain. Ekspresi atau ungkapan adalah upaya untuk mengeluarkan sesuatu dalam diri manusia. Bentuk diri manusia dapat diekspresikan keluar, dalam berbagai bentuk, sebab tampa bentuk tidak akan mungkin isi tadi disampaikan pada orang lain. Ciri khas penggungkapan bentuk pada sastra adalah bahasa. Bahasa adalah bahan utama untuk mewujudkan ungkapan pribadi di dalam suatu bentuk yang indah.